Untuk para Pejuang Meng(ASI)hi

Penulis : Putri Annisa


Sebagian orang mungkin setuju bahwa menjadi bahagia adalah pilihan. Dan anak saya, Athifa Yasmin (1 tahun 7 bulan) berhasil membuat saya menyederhanakan definisi bahagia.

21 Desember 2017, Yasmin lahir dari rahim saya melalui proses persalinan sectio (caesar). Alhamdulillah, doa saya dikabul Allah untuk bisa mengASIhi Yasmin sejak minggu-minggu pertama kelahirannya. Itu berlangsung lancar sampai masa cuti melahirkan saya habis dan kembali bekerja.

Yang pasti bukan perkara mudah meninggalkan Yasmin di rumah bersama seorang nanny. Tapi, hati saya sedikit lega karena pengasuhan Yasmin saat saya bekerja disupervisi mama-papa mertua. Sebagai  ibu baru yang bertekad memberikan ASI eksklusif buat Yasmin, saya menjalankan ikhtiar memompa ASI di sela-sela waktu saya bekerja. Dan setelah hari itu, hari pertama saya meninggalkan Yasmin bekerja, saya tersadar. Hidup saya tak lagi mudah.

Tiga tahun bekerja sebagai reporter desk nasional di salah satu portal berita online membuat saya terbiasa bergerak cepat. Meliput, mewawancarai narasumber, lalu menuliskannya ke narasi berita harus saya lakukan dalam hitungan menit, lalu berganti tugas menulis lainnya. Saya sangat cinta dan bahagia dengan pekerjaan saya yang memberikan begitu banyak kesempatan bertemu orang baru, tantangan baru, dan ilmu-ilmu baru. Termasuk, tantangan baru memompa ASI di sela waktu menulis bahkan berpindah tempat liputan.

Tak jarang, saya kesulitan menemui ruang menyusui di tempat saya liputan. Seringnya sih, saya numpang di mushola tempat liputan (yang hanya punya sedikit sekat shaf antara jamaah perempuan dan laki-laki) buat memompa ASI. Tak apalah saya dilihatin wartawan-wartawan cowok yang ‘sliweran’ di mushola. Selama ada apron (celemek untuk menutupi dada saat menyusui), proses pumping saya anggap aman.

Sebisa mungkin sebelum pumping saya video call Yasmin di rumah supaya aliran cinta itu kian deras. Saya nggak peduli walaupun seharian kerja cuma bisa mompa asi 2 atau 3 kali. Toh, stok ASI masih tersedia di freezer rumah.

“Put. Ke Kemenkes sekarang, ya”

“Put. Beritanya cepat, ya”

“Put. Kamu geser ke KPK ya”

No, no. Itu bukan lirik lagu berjudul “PUT”. Itu adalah nyanyian atasan saya di grup WhatsApp kantor yang seringkali masuk saat saya sedang pumping. ‘Teror’ WhatsApp seperti di atas tak pernah saya persoalkan selama ini karena memang itulah tugas dan tanggung jawab saya. Lagipula, saya senang mengerjakannya. Tapi lain cerita ketika saya sedang berusaha untuk tetap mengASIhi anak meski dalam kondisi bekerja. Tidakkah saya berhak mendapat toleransi?

Saya mencoba berpikir positif dan membalas singkat: “Siap, mas”

Sampai suatu hari, WhatsApp bertubi-tubi itu muncul hanya dalam hitungan menit bersamaan dengan waktu pumping. Saya pun menjawab, mencoba memberitahu kalau saya sedang pumping.

“Maaf, mas. Saya boleh izin pumping ASI kira-kira satu jam? Saya minta tolong liputannya di-backup yang lain dulu?”

“Oke”

((Satu jam kemudian, tetap saya yang geser ke tempat liputan lain))

Kejadian itu lantas berlangsung selama dua bulan sejak saya kembali bekerja setelah melahirkan. Tak terasa stok ASI perah buat Yasmin menipis. Jadwal pumping kedodoran bahkan sering saya cuma bawa pulang satukantong ASI. Bukan, bukan karena ASI saya sedikit. Nyatanya payudara saya selalu bengkak tiap dua jam sekali. Tapi saya jarang punya kesempatan pumping karena tiap kali payudara saya bengkak, saya masih harus menyelesaikan tugas liputan dengan minim toleransi.

Saya kembali berpikir positif dan mencoba mencari solusi. Saya berusaha mengajak diskusi atasan saya dan menawarkan opsi. Saya percaya, beliau adalah wartawan andal dibanding anak buahnya. Saya yakin dia bijaksana. Dan saya yakin dia paham tentang anjuran menyusui bagi ibu pekerja yang dicanangkan pemerintah telah begitu jelasnya diatur undang-undang, di antaranya Pasal 128 UU Kesehatan dan Pasal 83 UU Ketenagakerjaan.

Saya pikir, saya harus lebih dulu bicara masalah ini ke bos saya lewat WA karena saya tahu dia sibuk. Lagi pula beliau yang selalu meminta anak buahnya untuk menyampaikan segala sesuatu lewat WA terlebih dulu. Barulah setelah itu saya atur jadwal bertemu.

Dan rupanya percakapan WA itu menjadi percakapan yang membuat saya kembali sadar akan pilihan-pilihan hidup.

“Mas, saya kan lagi berusaha kasih ASI eksklusif ke anak saya sehingga saya harus pumping di sela jam kerja. Bolehkah saya minta tolong agar saya ditempatkan di satu pos liputan saja sehingga saya bisa kerja lebih maksimal dan pumping lebih sering? Jujur saya kesulitan pumping kalo liputan saya pindah-pindah”

Sekadar info, di tempat kerja saya dan beberapa kantor media lain, memungkinkan untuk reporter berdiam di satu pos liputan dan bertanggung jawab penuh atas isu-isu yang ada disana.

Lalu bos saya menjawab: “Nanti dilihat dulu, Put. Sepertinya sulit dan baru akan ada pertukaran pos saat akhir tahun”

Singkat. Tanpa Simpati. Dan jelas bagi saya untuk memutuskan tak perlu lagi memohon atau meminta belas kasih.

Bagi saya, jawaban itu cukup menjelaskan semua. Bahkan dalam jawabannya tak ada kata-kata penyemangat atau apapun yang menunjukkan bahwa beliau pro terhadap pemberian ASI eksklusif. Oh, mungkin karena beliau belum menikah dan memiliki anak. Mungkin. Tapi paling tidak sebagai seorang jurnalis pernah membaca tulisan tentang hak ibu menyusui.

Dari situ saya sadar, bahwa selain keluarga, ibu menyusui juga membutuhkan lingkungan kerja sebagai support system keberhasilan memberi ASI eksklusif untuk buah hati. Dan setelah hari itu, setelah pergumulan batin yang begitu sulit, air mata yang hampir menetes tiap hari, serta diskusi dengan suami dan keluarga, akhirnya saya memutuskan RESIGN.

Juni 2018. Saya meninggalkan pekerjaan yang amat saya cintai. Saya melepas profesi yang saya cita-citakan sejak kecil. Dan mengucap pisah kepada teman-teman kerja yang begitu saya banggakan. Sedih? Pasti.

Tapi saya sadar bahwa ada kalanya cinta tidak melulu soal bahagia. Cinta juga terkadang butuh pengorbanan. Dan, mengapa tidak, saya mengorbankan cinta untuk cinta dan bahagia yang lebih besar: mengASIhi Yasmin.

Selain itu, kesedihan saya juga berganti perasaan lega. Siapa nyana dukungan dan simpati atas kabar resign saya datang dari teman-teman sesama wartawan. Bertubi-tubi saya dapat kiriman WA yang bunyinya:

“Semangat ya, Put. Senang-senang main sama Yasmin”

“Sukses ya, Put. Jangan putus silaturahmi”

“Semangat, Put. Keputusan resign, apapun itu, kalo menyangkut anak, itu selalu keren”

Juli 2019. Setahun sudah saya di rumah. Menyusui Yasmin setiap hari tanpa rasa cemas, panik, apalagi waswas diminta geser pos liputan waktu lagi pumping. Bermain dan melihat Yasmin tumbuh tanpa terlewat adalah bahagia yang selalu saya syukuri setiap hari.

Saya jadi mengerti bahwa memilih bahagia adalah salah satu tugas kita sebagai manusia. Dan bahagia kian datang dengan lengkap jika kita bersyukur banyak-banyak. Termasuk, bersyukur saat kita mempunyai atasan kerja yang suportif dalam menyukseskan program menyusui. Saya pun berdoa Tuhan memberikan kesempatan  saya kembali mengamalkan ilmu dan menebar manfaat lewat pekerjaan yang saya cinta. Mungkin, suatu hari nanti

 


 

0 Balasan
N

Related Posts