Uang Istri, Uang Suami, atau Uang Kita?

Penulis : Aninditya Kumala Aprilia


Mungkin benar kalau ada yang mengatakan, kalau kita hanya mengejar uang maka tidak akan pernah ada kata puas dan cukup. Tapi benar juga kalau kita tidak bisa hidup tanpa uang terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Jadi sebaiknya kita harus bijak menyikapi hal-hal yang berhubungan dengan uang.

 

Dalam pernikahan, uang biasanya menjadi topik yang sensitif. Jelas! Karena uang berkaitan dengan pride, kebanggaan,  kemampuan, dan juga jerih payah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

 

Bagi kalian yang membaca ini dan belum menikah, sebaiknya saat memutuskan serius menjalin hubungan dengan pasangan apalagi akan sampai ke tahap pernikahan, bicarakan masalah uang dengan serius. Diskusikan bagaimana nanti caranya untuk mengelola uang, berapa uang yang dibutuhkan setiap bulan, dan bagaimana menyikapi pengeluaran. Jangan dilupakan juga tentang bagaimana mengatur penghasilan masing-masing kalau keduanya sama-sama bekerja. Semua harus jelas, jujur, dan tentunya terencana.

 

Aku dan suami memang sudah memiliki komitmen untuk  menyatukan uang kami. Jadi tidak ada lagi istilah uangku dan uangmu. Semua uang bersama dan sepakat untuk diatur oleh menteri keuangan yang adalah aku, si bini. Jadi aku harus cerdas dalam mengatur keuangan, menjaga cash flow supaya dapur tetap ngebul.

 

Dengan kesepakatan menyatukan uang kami, berapapun penghasilan masing-masing tidak menjadi masalah. Tidak ada yang terintimidasi karena fokusnya adalah bersama-sama memenuhi kebutuhan keluarga. Dulu, waktu diskusi sebelum menikah, aku dan suami setuju untuk terbuka soal gaji dan pendapatan masing-masing. 

 

Sekarang, berapa pun penghasilan suami, aku terima dengan penuh syukur. Bahkan jika dalam beberapa kesempatan, penghasilanku sebagai entrepreneur lebih besar, itu bukanlah hal yang perlu diperdebatkan dengan suami. Dengan komitmen yang dibuat sebelum menikah, ketika bini lebih tajir ya lakinya juga ikut merasa nyaman.

 

Dalam kehidupan berumah tangga, ada tiga pengingat sederhana buatku. Tiga hal ini aku jadikan pegangan untuk agar rumah tangga laki bini tetap aman nyaman damai meski penghasilan istri lebih besar dari suami. 

 

Pertama, Tidak ada lagi “aku” atau “kamu”, yang ada tinggal “kita”. Menikah memang salah satu keputusan terbesar dalam hidup. Karena, kalau sudah menikah, egoisme harus ditinggal, diekspor aja deh ke negara tetangga. Nggak boleh lagi mikir diri sendiri. Jadi kalau istri lebih tajir dan suami nggak terima, atau gaji suami kecil dan istri protes, ya balik lagi ke komitmen awal yang sudah disepakati bersama. 

 

Istri tajir atau yang punya penghasilan lebih dari suami juga bukan berarti bisa semena-mena. Untuk suami, penghasilan lebih rendah dari istri juga bukan berarti menjadi suami yang tidak berguna. Balik lagi ke poin nomor satu, pernikahan itu tentang kita bukan aku dan kamu. Ibaratnya tim ganda bulu tangkis, yang punya tujuan menang. Semua harus fokus pada tujuan itu. Jadi nggak perlu sensi-sensi nggak jelas. Jangan jadi suami istri yang gampang tersinggung. Kunci membahagiakan perempuan gampang kok, cukup dengan kasih sayang dan cinta. 

 

Jadi untuk para lelaki yang penghasilannya di bawah istri, jangan berhenti melihat ke hati, potensi, dan cintamu. Lagipula, perempuan yang lebih mapan karena usaha sendiri biasanya akan lebih terbuka pikirannya. Dan jika wanita mau menikah denganmu, berarti memang kamu berarti buat mereka. Jangan rusak rasa sayang dan cinta mereka dengan egomu. Percaya nggak kalau dibantu mengasuh anak dan beres-beres rumah, atau sekadar dipeluk sepulang kerja lebih berarti ketimbang dibelikan tas branded. 

 

Jujur, ini juga menjadi salah satu poin penting dalam berumah tangga. Jujur pada pasangan. Jujur pada teman hidupmu. Memang ini gampang untuk diucapkan tapi sulit dilakukan. Terutama bagi yang tinggal di kota besar, bagi pasangan yang sama-sama sibuk sampai nggak punya sisa tenaga setelah di rumah. 

 

Usahakan selalu jujur, termasuk soal finansial. Misalnya, ketika memutuskan mengambil pinjaman atau ketika dapat bonus dari kantor. Susah cari waktu ngobrol, karena setelah di rumah hanya pengen istirahat dan selonjoran? Tetap usahakan segera cerita kalau ada sesuatu. Lewat whatsapp juga gak apa-apa. Jujur soal kondisi finansial akan membuat kalian lebih tenang. Kalau sudah tenang, akan lebih mudah untuk mencari solusi seandainya memang ada masalah keuangan.

 

Itu poin-poin yang selalu jadi peganganku. Aku dan suami juga masih berusaha belajar bersama dalam membina rumah tangga setiap hari. Aku paham, kebersamaan dalam menikah itu merupakan proses yang harus terus-menerus dijalani dan dinikmati bersama.

 

0 Balasan
N

Related Posts