Anak Perempuan di mata Ayahnya

Penulis : @a_junor


Jujur, saya tidak termasuk dalam kelompok orang (laki-laki) yang suka anak kecil, dalam hal ini tidak bisa bermain sama anak-anak. Jadi saya termasuk om yang kurang perhatian sama keponakan, tapi bukan berarti tidak sayang ya, cuma benar-benar tidak tahu harus bagaimana.

Ketika mau menikah, saya dan istri, eh, calon istri, membahas tentang anak. Sementara calon istri saya suka banget yang Namanya bayi dan anak kecil, sampe di hape dan laptop nya buanyak banget foto-foto bayi gembil lucu nan menggemaskan. Dan saya pun masih hesitant untuk memiliki anak. 

Tapi bicara ‘bikin anak’ sih saya hayuk se-iya-iya nya. Next thing you know, istri pun hamil. Alhamdulillah. Istri saya pun sempet khawatir saya tidak mau mengurusi anak karena saya tidak suka anak kecil. Berbagai buku dia belikan untuk saya dan berbagai laman website pun dia forward ke hape atau email saya biar saya baca hal perihal parenting. Bingung juga sih waktu itu, semakin banyak baca, semakin bingung mana yang harus dianut dan diikuti. Sampai akhirnya anak saya lahir. Ya sudah, learning by doing aja.

Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun saya lewati mengurus anak perempuan saya yang gemesin, lucu, nakal dan nyebelin. Ya itu lah anak-anak. Semakin saya menyadari begitu sulit menjadi orang tua, semakin saya sadar betapa mengecewakan saya dulu terhadap orang tua saya. Itulah sebabnya saya bertekad untuk berikan yang terbaik untuk anak saya. 

Semakin dia tumbuh, maka semakin banyak pula hal-hal yang ingin saya lakukan Bersama anak perempuan saya. Ingin sekali selalu berada disisi nya biar dia selalu terjaga, dan saya tidak mau kehilangan momen untuk hadirkan memory untuk dia terhadap bapaknya. Yes, saya galak dan pemarah, tapi saya berusaha berikan kasih sayang sepenuhnya untuknya.

Yang menarik dan unik saat menjadi seorang ayah adalah betapa kita menjadi seorang penakut. Ada hal-hal yang membuat nyali menjadi ciut, seperti mengendarai motor dengan kecepatan yang boleh dibilang pelan khas bapak-bapak. Bahkan saya gampang terharu cenderung nangis saat melihat film yang ada kaitannya tentang hubungan bapak dan anak perempuan.

Bagi saya, anak perempuan saya ini menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidup, sehingga saya ingin sekali menemani dia dalam setiap langkahnya menuju kesuksesan. Mungkin saya akan menjadi Anjing Pitbull saat ada pria yang mengecewakan anak saya – atau jadi Dracula di Hotel Transylvania yang berubah jadi horror saat anak cidera atau di-bully sama anak lain.

Saat dulu saya tidak bisa mencintai seorang anak, kini saya sangat mencintai dan menyayangi anak saya. Sekarang pun mata saya berkaca-kaca membayangkan dia tertawa-tawa karena alasan yang absurd.

Kalau belum siap mencintai seseorang begitu dalam, sebaiknya pikir ulang untuk menjadi orang tua. 
 

0 Balasan
N

Related Posts