Pilih Mana? Working Wife atau HouseWife?

Penulis : a_junor


Ini kayanya dilema (hampir) semua laki-laki yang sudah menikah. Istri nya boleh kerja atau ngendon dirumah aja. Dan dari lingkungan teman-teman saya, masing-masing punya preferensi berbeda-beda, tidak sedikit pula yang berdasarkan agama bahwa wanita atau istri sebaiknya berperan sesuai kodratnya untuk mengurus anak dan suami di rumah.

Kalau saya pribadi, punya pemikiran lain, saya memberikan kebebasan kepada istri, apakah dia mau kerja atau stay at home aja. Kebetulan istri saya emang terlalu aktif dan harus ‘dilepas’… Ya basically karena sejak pacaran saya melihat karakter dia dan cerita-cerita dia waktu kecil and waktu muda memang-orang nya seneng ngobrol sama orang, bahkan sama stranger yang baru ketemu kaya di lift, atau ruang tunggu pesawat…..tiba-tiba ikrib kaya udah kenal lama. Jadi, kalau disuruh ngendon dirumah; masak – ngurus anak, baca majalah, bersih-bersih doang, ya kasian juga sih.

Dan kebetulan memang dia dari muda udah kerja, jadi kenapa kita harus mengekang seseorang kalau memang dia senang beraktifitas, dengan catatan bahwa kerjaan rumah ya jangan lupa, apalagi urus anak. Tapi itu lah resiko yang harus ditanggung kalau sudah jadi orang tua. Dan kalau saya ya sama-sama cape aja, sama-sama ngurus anak aja – termasuk bangun malem, hahahaha…. Ini kaum laki-laki agak lemah, kaya ada magnet di mata dan badan, susah dibuka dan susah untuk berdiri dari tempat tidur di malem hari…

Sebenarnya semua kembali ke pribadi masing-masing sih, karena dalam berumah-tangga yang penting adalah komunikasi. Sejak pacaran, saat rencana mau nikah, bahkan sampai menikah dan punya anak semua harus dikomunikasikan antara suami dan istri. Ibarat Captain sama co-Pilot pesawat, atau sopir dan kernet bis, atau seperti Batman dan Robin….eeww wait…. Seperti Batman dan Catwoman, atau Loise and Clark… ya, you know what I mean lah.

Anyway, semua pasangan pasti punya tantangan yang berbeda dan cara yang berbeda dalam mengatasinya. Sebelum menikah sebaiknya ada pembicaaan antara kedua calon, dan pembicaraanya benar-benar deep talk bukan sekadar coffee chat, karena saat menikah, segala bentuk kompromi kadang berat untuk dilakukan. 

Daaaaan, saat suami-istri sudah sepakat, jangan lupa bahwa ada orang tua dan mertua yang kadang-kadang ikut campur dalam urusan rumah tangga kita. Ini juga kembali ke pasangannya dan bagaimana “kepo” nya keluarga, apakah sampai mengganggu atau sekadar memberi saran. Jangan lupa, bahwa kita sudah menikah dengan pasangan kita untuk membentuk keluarga baru, jadi bila masukan dari orang tua atau mertua tidak sesuai dengan kita, ya cukup dengarkan saja tanpa harus melawan. 

Kalau kalian gimana? Mungkin ada cerita istri kalian sengaja resign dari kantor dan karir yang dibentuk untuk mengurus keluarga? Ceritain ya. Saya “kepo” juga bagaimana temen-temen mengatasi berbagai tantangan working wife atau housewife.

0 Balasan
N

Related Posts