(Sulitnya) Belajar untuk Tidak Asal Nilai

Penulis : Putri Annisa


Sejak menjadi seorang istri dan kemudian ibu, ada banyak hal yang mulai berubah dalam hidup saya. Selain perubahan fisik yang tak lagi seperti dulu alias makin lebar.  Ada juga beberapa sikap yang sepertinya nggak lagi sama seiring berjalannya waktu. Tentunya dengan proses yang panjang.

Waktu masih perawan, saya cenderung cuek dengan orang-orang di sekeliling saya. Setelah menikah dan punya anak, saya berusaha untuk lebih perhatian dan peka terutama kepada keluarga dan sahabat terdekat saya.

Waktu masih perawan, boro-boro mau tahu cara mendidik anak dan me-manage keuangan. Setelah menikah dan punya anak, persepsi saya tentang uang sedikit demi sedikit berubah. Yah, walaupun kadang masih tergoda juga sale buy one get one. Hehe.

Setelah punya anak, mau nggak mau saya harus banyak cari tahu soal cara ngurus anak. Karena walaupun punya banyak keponakan, saya jarang banget tuh partisipasi mandiin, pakein baju, atau gendong ponakan saya. Paling banter, ikut nyubit-nyubit pipi dan cium-cium gemes aja.

Sebelum menikah dan punya anak, saya pengen banget mau jadi wanita karir. Mau menghasilkan uang sebanyak-banyaknya dari pekerjaan yang saya suka. Setelah menikah dan punya anak, saya sadar bahwa kadang kala impian dan kenyataan sulit jalan beriringan. Setelah menikah, saya sadar bahwa sebagai manusia, kita dihadapkan dengan begitu banyak pilihan.

Hmm.., saya jadi ingat kejadian waktu saya perawan dulu. Waktu saya lagi asyik-asyiknya kerja. Lagi senang-senangnya nikmatin hasil keringat sendiri. Satu kejadian yang kemudian saya rasakan dalam hidup saya sekarang. Satu kejadian yang seharusnya bikin saya mikir: "Oh, harusnya dulu gue nggak bersikap begitu"

Dulu, beberapa bulan setelah kakak saya melahirkan anak pertamanya, tiba-tiba aja dia menyampaikan keputusan akan resign dari pekerjaannya. Menurut dia, kondisinya seperti tidak memungkinkan bekerja sembari mengasuh anak. Dia bilang: capek, stres, dan nggak mungkin lanjut kerja dari pagi sampai sore.

Respons saya saat itu adalah: "Hah? Yang benar aja? Nggak sayang ya, karir udah dibangun bertahun-tahun terus mutusin resign hanya dengan alasan capek dan stres ngurus anak?

Menurut saya waktu itu, keputusan kakak saya nggak make sense. Ya iyalah semua pekerjaan kalau dijalanin pasti bisa bikin kita punya beban capek dan stres. Tapi toh, capek dan stres itu lantas berganti puas dan bahagia saat kita terima gaji hasil kerja di akhir bulan.

Ya, itulah pemikiran saya si anak kecil bau kencur saat itu. Bocah ingusan yang doyannya cuma bisa judging hanya lewat satu sudut pandang. Saya tidak atau bahkan belum merasakan apa yang kakak saya rasakan.

Tapi lima tahun kemudian, saya paham dan sadar. Memang betapa struggling-nya mengurus bayi sembari menjadi working mom. Perempuan yang biasa cuma kerja dari pagi sampai malam, kemudian ditambah tanggung jawabnya mengurus bayi baru lahir selama 24 jam nonstop.

Belum lagi badan yang terasa lunglai pasca persalinan. Emosi yang kadang turun naik tapi sulit rasanya menemukan orang yang mengerti. Ditambah menampung puluhan pertanyaan orang-orang:

"Lahiran normal atau caesar? Kenapa caesar? Nggak sabar nunggu mules ya? Atau nggak kuat nahan sakit?"

"Anaknya kecil amat. Coba ASI-nya campur sufor deh biar cepat gemuknya"

Nggak sampai di situ. Ketika saya pikir saya sedang berusaha melakukan hal terbaik dengan resign dan fokus mengurus anak, masih ada aja yang nyinyir. Bukan siapa-siapa, cuma teman satu kantor beda divisi. Padahal dia sedang mengandung anak pertama.

"Oh resign? Berarti nanti jadi ibu rumah tangga aja dong, ya?

Yang kayak begini-begini nih yang bikin saya cuma bisa elus dada. Tentunya sambil batin: "Semoga anakmu sehat-sehat ya, nanti"

Saya lalu mengerti bahwa kita tidak akan pernah bisa mengatur pikiran-pikiran orang lain atas kita. Tapi setidaknya, kita bisa mengatur hati dan pikiran kita sendiri untuk tidak asal menilai. Kita bisa belajar menata diri kita untuk tidak menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain. Bersyukur juga setelah punya anak, saya dikelilingi lebih banyak orang suportif, ya walaupun gak bisa dipungkiri masih ada segelintir yang nyinyir hehe. 

Saya dan dua teman saya, Dian dan Moyang membentuk grup WhatsApp yang isinya curhatan mamak-mamak newbie soal tumbuh kembang anak. Mulai dari per-ASI-an, MPASI, imunisasi, sampai kekesalan waktu payudara digigitin bocah.

Saya yang mudah nyerah kemudian milih pensiun dini jadi wartawan dan fokus urus anak. Dian yang gigih masih liputan sampai malam dengan perut yang kian buncit karena hamil anak kedua. Dan Moyang yang sedang berjuang satu tahun di negeri orang buat lanjut sekolah sambil ngurus anak dan suami.

Prinsip kami sih: Moms Support Moms. Berusaha nggak judging. Saling mengisi apa yang perlu diisi (ini apa sih? Haha)

Yah, walaupun kami sadar kami juga bukan ibu-ibu tanpa dosa. Ada juga kok sedikit nyinyirnya. Misal:

"Itu gimana deh, kok si X ngurus anaknya sambil ngeluh mulu di sosmed?"

"Si artis Y itu ya, standar ngurus anaknya bikin ibu-ibu lain depresi. Kelewat perfect, mending unfollow aja"

Dan lain-lain. Hehe.

Jadi gimana? Ternyata memang sulit ya, belajar buat nggak asal menilai?

 

0 Balasan
N

Related Posts