Enam Obrolan Wajib (Calon) Suami Istri

Penulis : Jeng Sas


Sebelum saya menikah, saya dan (waktu itu) calon suami mendapati kalau kami adalah dua orang yang sangat berbeda satu sama lain. Saya yang geeky, kalau libur sukanya di rumah saja sendiri, baca buku, serial tv maraton tv oldies. Pasangan saya adalah cowok gaul yang liburnya dihabiskan dengan main futsal ramean, nongkrong di mall, nonton konser...

Well, we're the living proof of opposites attract, for sure! 

Tapi satu hal yang pasti, kami nyaman bersama dan punya keyakinan kalau we were made for each other. Di balik semua perbedaan yang kami punya, saya merasakan dia adalah orang saya butuhkan. And vice versa!

Kami memang gak lama-lama PDKT sebelum memutuskan menikah. Setiap menghabiskan waktu bareng, kami banyak ngobrol dan diskusi. Ada beberapa pertanyaan utama yang kami bahas sebelum memantapkan diri lanjut serius. Pertanyaan-pertanyaan ini prinsip banget, dan sering kami share ke saudara atau teman yang baru lamaran. Paling gak, bisa membuat mereka saling mengenal hal-hal yang serius tentang pasangan. Buat saya dan suami, obrolan-obrolan ini senantiasa di-update sepanjang usia pernikahan kami yang baru 7 tahun. 

  • Finansial

Sebelum menikah, saya dan pasangan sudah ngobrol dari awal. Semua tentang pendapatan, hutang, cicilan, investasi kami beritahukan semuanya. Saat ada yang dapat promosi di karir, berhenti kerja, nambah anak atau ingin nabung beli sesuatu semua berkaitan dengan uang. Sepanjang dibicarakan dan dicari jalannya sama-sama, akan terasa lebih mudah. Gimanapun, semua orang punya cara sendiri mengelola keuangan. Bisa dilihat sih sebetulnya sejak pacaran, gimana pasangan memperlakukan uang mereka. Tapi tentu lebih baik dibicarakan tanpa baper. Saling tahu soal kondisi finansial juga bikin makin semangat kerja, atau malah merasa tenang untuk mengurus anak di rumah saja, pokoknya urusan duit ini dampaknya besar banget sama kehidupan rumah tangga deh.

Pengalaman saya pribadi, saya diberikan tugas besar mengelola keuangan rumah tangga. Tapi ternyata saya gak kuat, hahaha. Sebagai mahasiswi yang harus ngulang manajemen keuangan jaman kuliah, saya stress banget ternyata bikin anggaran, ngecek rekening, catat pengeluaran, dan sebagainya. Tidaaaaak! Di tahun kelima pernikahan saya menyerah dan akhirnya bagi tugas sama suami. Pengalaman teman yang lain, ada juga suami yang  memegang kendali sepenuhnya atas keuangan keluarga karena istrinya lebih suka ‘dijatah’. Biasanya karena istri ingin lebih fokus untuk mengurus anak. Bagi saya sama saja, yang penting transparan. Eh, kecuali kalau mau bikin surprise sih. Hehe. Masalah yang diawali karena uang, kebanyakan ending-nya gak baik. Makanya, usahakan bagian ini minim konflik.

  • Keluarga

Sebelum nikah, wajar banget kok nanya pengen punya anak berapa. Jangan sampai yang satu ngebet pengen punya anak banyak, tapi lainnya malah gak kepikiran. Saya dulunya pengen punya anak dua saja. Suami saya yang dari keluarga besar, maunya empat. Tuhan yang bikin kami punya tiga anak. 

Soal mengurus keluarga pun harus diobrolin, apakah perempuan setelah jadi ibu akan mengurus anak secara full time, bekerja dari rumah, atau kembali bekerja kantoran. Dulu saya berencana kembali bekerja kantoran, tapi setelah melahirkan saya berubah pikiran. Jadilah suami yang harus lebih giat bekerja supaya pemasukan keluarga tetap aman. 

Hal lain yang menurut saya paling penting adalah soal cara mendidik anak. Beda-beda banget kan cara orang tua mendidik anaknya. Ada yang tegas seperti suami saya, ada yang super woles macam saya. Ada yang liberal dan anak dilibatkan dalam semua keputusan, ada juga yang bersikap super cool pokoknya kalau depan anak semua hal harus baik-baik saja.  Saya juga merasakan bagian ini, kami banyak kompromi melakukan kompromi demi satu tujuan yaitu membesarkan anak dengan happy dan baik di mata Tuhan. 

  • Privasi dan Pergaulan

Setelah menikah, kami saling memberi tahu password masing-masing, tapi tetap gak pernah iseng baca messages atau chat di ponsel pasangan. Begitupun dengan password laptop dan PIN ATM. Hubungan pertemanan dengan orang lain pun, harus dibahas bersama. Saya lebih nyaman dikunjungi teman-teman saya di rumah, tipe yang senang bikin pajamas party bareng geng cewek, sementara pasangan sukanya main keluar sama kawan-kawannya.. Kalau gak ada disclaimer kan repot.

Dan gak bisa dipungkiri, setelah menikah pasti ada perubahan. Ada yang pas pacarannya romantis abis, eh pas nikah jadi cuek. Atau sebaliknya. Kalau seperti saya sama suami kayaknya gak banyak perubahan, stabil cemburuannya, haha! Yang jelas, kami sama-sama saling menjaga dan lebih memperhatikan perasaan satu sama lain. Kalau teman cowok saya sok akrab pengen cipika cipiki, saya kasih high-five. Kalau teman cewek suami tau-tau curhat di DM, dia pasti langsung oper ke saya. Ini koentji banget karena yang namanya insecure itu melelahkan.

  • Mertua dan Ipar

Bagi saya dan suami, menghormati keempat orang tua kami adalah hal penting, namun kami tetap mengutamakan pasangan dan keluarga inti kami. Biasanya kami melibatkan orang tua jika punya rencana. Bagaimanapun, mereka kan lebih pengalaman termasuk soal anak. Tidak jarang kami meminta masukan dari kakek neneknya. Tapi, kami gak pernah "curhat" kalau ada masalah sama pasangan ke orang tua dan saudara masing-masing. Saya berasal dari keluarga yang sangat dekat. Nongkrong masih sama orangtua dan adik bahkan hingga punya anak. Chat group yang aktif banget sampai batas too-much-information buat suami. Karena keluarganya dia agak berjarak satu sama lain, meski anggotanya banyak. Akhirnya, saya mencoba PDKT sama mamak mertua, sering chat, kirim foto, video call. Frekuensinya? Ya sesering mungkin karena saya pengen tau juga keadaan beliau. Awal-awal dia berasa awkward, tapi makin sini jadi kebiasaan. Kalau saya ngilang dicariin. Intinya, anggaplah mertua sebagai orangtua sendiri. Sayangnya harus sama. Perhatiannya pun sama. Teman saya ada yang nganggap perlakuan mertua ke saya terlalu controlling. Misalnya, waktu itu saya lagi hamil, malam-malam pulang kerja kena macet, beliau nelpon untuk cek apa saya sudah di rumah atau belum. Tapi, saya sih merasa disayang kalau digituin. Nah yang gini-gini, harus diobrolin sama suami supaya kita juga tahu kan gimana cara PDKT paling efektif sama keluarganya.

  • Mau ke mana? 

Tinggal dimana, gimana, kayak apa, jangan stress. Bagian ini sebetulnya paling santai menurut saya. Tapi tetap harus diomongin berdua. Satu hal yang pasti, persoalan tinggal di mana, akan berubah seiring waktu kok. Saya dan pasangan dulu ngontrak rumah ukuran studio. Lalu, saat punya anak pertama dan kedua kami pindah ke rumah dua kamar. Sekarang, saat anak punya bayi nomor tiga, kami pindah lagi ke rumah orangtua saya. Tentu ada alasannya dan keputusan ini diambil bersama. Bicara tentang tempat tinggal sudah kami lakukan sebelum menikah dulu. Jangan sampai begitu selesai menikah, diajak nge-kost malah merasa diajak sengsara atau saat dibawa untuk tinggal di rumah mertua dan gak mau terima. Saling berbagi konsep rumah impian juga seru dan penting. Bayangkan kalau pasangan pengennya suatu hari nanti punya rumah mansion 12 kamar, sementara kamu maunya minimalis living. 

Dannnn.... Yang penting dan agak terlambat karena baru ngobrolin ini saat sudah punya anak dua adalah...

  • Kepercayaan Religius 

Saya tahu, kalau menikah kan biasanya satu agama. Tapi jangan salah, tingkat komitmen orang pada hal religius ini beda-beda, lho. Saat suami dulu memutuskan gak pake kartu kredit lagi dengan alasan agama, saya sempat shock banget. Begitupun saat dia mulai mengubah penampilan dari cowok gaul trendi menjadi lebih rapi dan sesuai ketentuan agama, saya agak kaget. Makanya, coba dibicarakan dulu sekiranya mau mulai belajar dan mengamalkan ilmu agama lebih jauh. Jangan sampai ditinggal karena pasangan merasa... "Kamu siapa??! Aku gak menikah sama kamuuu!"

Jangan sepelekan bagian ini karena bisa sangat berpengaruh pada kehidupan. Buat banyak orang, seiring waktu berjalan, kebutuhan spiritual juga semakin tinggi. Ingin jadi orang yang lebih baik, berubah mengikuti aturan agama, menjauhi larangan Tuhan. Nah yang seperti ini, yang harus ada disclaimer pada pasangan. Cukup banyak saya mendapati pasutri yang pisah karena salah satunya memutuskan untuk hidup lebih religius, sementara pasangannya have no clue dan akhirnya kabur. Tanggung jawab untuk share ilmu agama itu dimulai dengan teman tidurmu lho!

 

Nah, kira-kira gitu deh yang bisa diobrolin sebelum memulai bahtera rumah tangga ala saya dan suami. Sama sepupu, saudara dan kawan, kami sering mengingatkan untuk kepo dulu sebelum joss kawin. Intinya sih, komunikatif dalam segala hal kalau sudah jadi suami istri. Memang seiring waktu, kita seakan punya kemampuan telepati, tapi gak semua hal bisa ditebak, dimaklumi dan diterima kalau gak diobrolin langsung. 

 

 

 

0 Balasan
N

Related Posts