Highlight Article

Busana apa yang bikin para pria Turn On?

<p>Bicara seksual selalu menjadi pembicaraan favorit para pria, konon 70% otak pria isinya seputar seksual. Entah bagaimana cara mendapatkan angka 70% itu, hahahaha&hellip; Tapi saya setuju sih, entah itu otak kanan atau otak kiri, pasti ada unsur porno nya.</p> <p>Tapi jangan marah dulu, ini generalisasi ya. Artinya&nbsp;kebanyakan dan tidak semua laki-laki seperti itu. Untuk pria, keinginan untuk berhubungan sama istri itu kadang datangnya tidak terduga, tiba-tiba pengen aja. Beda nya sama wanita (para istri), biasa nya mereka harus ada alur romantisnya, ga bisa langsung &lsquo;byur&rsquo; pengen dan langsung &lsquo;celup&rsquo;, <em>no no&hellip;.</em></p> <p>Setiap pasangan pasti punya gaya, imajinasi dan preferensi yang berbeda-beda, tapi yang bikin <em>turn on, </em>antara lain memang dari gaya busana si istri. Kadang-kadang pulang kantor pake blazer dan rok kerja pun, tampak seksi walau muka kucel abis naik ojek. Apalagi bentuk tubuh istri terpapar di blazer dan rok yang sedikit mepet di badan, hahahaha&hellip;.&nbsp;</p> <p>Tapi, seperti yang diomongin diatas tadi, para suami sebenarnya kalau lagi pengen ya pengen aja, kalau lagi ga pengen ya ga pengen. Istri abis mandi dan keluar kamar mandi dalam keadaan bulat bugil pun kalau lagi ga pengen ya ga pengen. Kalau lagi pengen, pake <em>coat </em>tebal lapis 6 pun dilucuti sampe habis, hahaha&hellip;</p> <p>Tapi yang jelas saya sangat menghargai istri saya ketika dia melakukan <em>effort </em>lebih untuk berpakaian seksi sebelum berhubungan, karena saat dia merasa seksi, maka gairah pun meningkat, jadi &lsquo;permainan&rsquo; pun menjadi hangat atau bahkan liaaaarrrr.</p> <p>Kalau dari saya dan istri sih akan selalu cari hal-hal baru dalam berhubungan, ya kalau bisa gaya yang beda sih silahkan, tapi kalau dari kami berdua sih, gaya ya itu-itu aja, soalnya udah nemu enaknya, hahahaha&hellip; dan sudah tidak bisa gaya yang lain, yang ada encok lah, ga enak lah, atau malah ga &lsquo;masuk&rsquo;, hahahahahaha&hellip;..</p> <p>Yang kami lakukan adalah lokasi yang berbeda dan pakaian yang berbeda-beda (istri). Dari <em>lingerie </em>berbagai model dan design hingga aksesoris pendukung yang bisa di&rsquo;customize&rsquo; sesuai imajinasi yang liar masing-masing. Saya paling lemes, kalau istri sudah menggunakan sepatu hak tinggi.</p> <p>Lemeeeesssss&hellip;&hellip;.</p>

Pilih Mana? Working Wife atau HouseWife?

<p>Ini kayanya dilema (hampir) semua laki-laki yang sudah menikah. Istri nya boleh kerja atau ngendon dirumah aja. Dan dari lingkungan teman-teman saya, masing-masing punya preferensi berbeda-beda, tidak sedikit pula yang berdasarkan agama bahwa wanita atau istri sebaiknya berperan sesuai kodratnya untuk mengurus anak dan suami di rumah.</p> <p>Kalau saya pribadi, punya pemikiran lain, saya memberikan kebebasan kepada istri, apakah dia mau kerja atau <em>stay at home </em>aja. Kebetulan istri saya emang terlalu aktif dan harus &lsquo;dilepas&rsquo;&hellip; Ya <em>basically</em> karena sejak pacaran saya melihat karakter dia dan cerita-cerita dia waktu kecil and waktu muda memang-orang nya seneng ngobrol sama orang, bahkan sama <em>stranger </em>yang baru ketemu kaya di lift, atau ruang tunggu pesawat&hellip;..tiba-tiba ikrib kaya udah kenal lama. Jadi, kalau disuruh ngendon dirumah; masak &ndash; ngurus anak, baca majalah, bersih-bersih doang, ya kasian juga sih.</p> <p>Dan kebetulan memang dia dari muda udah kerja, jadi kenapa kita harus mengekang seseorang kalau memang dia senang beraktifitas, dengan catatan bahwa kerjaan rumah ya jangan lupa, apalagi urus anak. Tapi itu lah resiko yang harus ditanggung kalau sudah jadi orang tua. Dan kalau saya ya sama-sama cape aja, sama-sama ngurus anak aja &ndash; termasuk bangun malem, hahahaha&hellip;. Ini kaum laki-laki agak lemah, kaya ada magnet di mata dan badan, susah dibuka dan susah untuk berdiri dari tempat tidur di malem hari&hellip;</p> <p>Sebenarnya semua kembali ke pribadi masing-masing sih, karena dalam berumah-tangga yang penting adalah komunikasi. Sejak pacaran, saat rencana mau nikah, bahkan sampai menikah dan punya anak semua harus dikomunikasikan antara suami dan istri. Ibarat Captain sama co-Pilot pesawat, atau sopir dan kernet bis, atau seperti Batman dan Robin&hellip;.eeww wait&hellip;. Seperti Batman dan Catwoman, atau Loise and Clark&hellip; ya, <em>you know what I mean </em>lah.</p> <p><em>Anyway, </em>semua pasangan pasti punya tantangan yang berbeda dan cara yang berbeda dalam mengatasinya. Sebelum menikah sebaiknya ada pembicaaan antara kedua calon, dan pembicaraanya benar-benar <em>deep talk </em>bukan sekadar <em>coffee chat, </em>karena saat menikah, segala bentuk kompromi kadang berat untuk dilakukan.&nbsp;</p> <p>Daaaaan, saat suami-istri sudah sepakat, jangan lupa bahwa ada orang tua dan mertua yang kadang-kadang ikut campur dalam urusan rumah tangga kita. Ini juga kembali ke pasangannya dan bagaimana &ldquo;kepo&rdquo; nya keluarga, apakah sampai mengganggu atau sekadar memberi saran. Jangan lupa, bahwa kita sudah menikah dengan pasangan kita untuk membentuk keluarga baru, jadi bila masukan dari orang tua atau mertua tidak sesuai dengan kita, ya cukup dengarkan saja tanpa harus melawan.&nbsp;</p> <p>Kalau kalian gimana? Mungkin ada cerita istri kalian sengaja resign dari kantor dan karir yang dibentuk untuk mengurus keluarga? Ceritain ya. Saya &ldquo;kepo&rdquo; juga bagaimana temen-temen mengatasi berbagai tantangan <em>working wife </em>atau <em>housewife.</em></p>

Anak Perempuan di mata Ayahnya

<p>Jujur, saya tidak termasuk dalam kelompok orang (laki-laki) yang suka anak kecil, dalam hal ini tidak bisa bermain sama anak-anak. Jadi saya termasuk om yang kurang perhatian sama keponakan, tapi bukan berarti tidak sayang ya, cuma benar-benar tidak tahu harus bagaimana.</p> <p>Ketika mau menikah, saya dan istri, eh, calon istri, membahas tentang anak. Sementara calon istri saya suka banget yang Namanya bayi dan anak kecil, sampe di hape dan laptop nya buanyak banget foto-foto bayi gembil lucu nan menggemaskan. Dan saya pun masih <em>hesitant </em>untuk memiliki anak.&nbsp;</p> <p>Tapi bicara &lsquo;bikin anak&rsquo; sih saya hayuk se-iya-iya nya. <em>Next thing you know, </em>istri pun hamil. Alhamdulillah. Istri saya pun sempet khawatir saya tidak mau mengurusi anak karena saya tidak suka anak kecil. Berbagai buku dia belikan untuk saya dan berbagai laman website pun dia <em>forward </em>ke hape atau email saya biar saya baca hal perihal <em>parenting. </em>Bingung juga sih waktu itu, semakin banyak baca, semakin bingung mana yang harus dianut dan diikuti. Sampai akhirnya anak saya lahir. Ya sudah, <em>learning by doing </em>aja.</p> <p>Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun saya lewati mengurus anak perempuan saya yang gemesin, lucu, nakal dan nyebelin. Ya itu lah anak-anak. Semakin saya menyadari begitu sulit menjadi orang tua, semakin saya sadar betapa mengecewakan saya dulu terhadap orang tua saya. Itulah sebabnya saya bertekad untuk berikan yang terbaik untuk anak saya.&nbsp;</p> <p>Semakin dia tumbuh, maka semakin banyak pula hal-hal yang ingin saya lakukan Bersama anak perempuan saya. Ingin sekali selalu berada disisi nya biar dia selalu terjaga, dan saya tidak mau kehilangan momen untuk hadirkan <em>memory </em>untuk dia terhadap bapaknya. Yes, saya galak dan pemarah, tapi saya berusaha berikan kasih sayang sepenuhnya untuknya.</p> <p>Yang menarik dan unik saat menjadi seorang ayah adalah&nbsp;betapa kita menjadi seorang penakut. Ada hal-hal yang membuat nyali menjadi ciut, seperti mengendarai motor dengan kecepatan yang boleh dibilang pelan khas bapak-bapak. Bahkan saya gampang terharu cenderung nangis saat melihat film yang ada kaitannya tentang hubungan bapak dan anak perempuan.</p> <p>Bagi saya, anak perempuan saya ini menjadi salah satu bagian terpenting dalam hidup, sehingga saya ingin sekali menemani dia dalam setiap langkahnya menuju kesuksesan. Mungkin saya akan menjadi Anjing Pitbull saat ada pria yang mengecewakan anak saya &ndash; atau jadi Dracula di Hotel Transylvania&nbsp;yang berubah jadi horror saat anak cidera atau di-bully sama anak lain.</p> <p>Saat dulu saya tidak bisa mencintai seorang anak, kini saya sangat mencintai dan menyayangi anak saya. Sekarang pun mata saya berkaca-kaca membayangkan dia tertawa-tawa karena alasan yang absurd.</p> <p>Kalau belum siap mencintai seseorang begitu dalam, sebaiknya pikir ulang untuk menjadi orang tua.&nbsp;<br /> &nbsp;</p>

Uang Istri, Uang Suami, atau Uang Kita?

<p>Mungkin benar kalau ada yang mengatakan, kalau kita hanya mengejar uang maka tidak akan pernah ada kata puas dan cukup. Tapi benar juga kalau kita tidak bisa hidup tanpa uang terutama untuk memenuhi kebutuhan sehari hari. Jadi sebaiknya kita harus bijak menyikapi hal-hal yang berhubungan dengan uang.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Dalam pernikahan, uang biasanya menjadi topik yang sensitif. Jelas! Karena uang berkaitan dengan pride, kebanggaan,&nbsp; kemampuan, dan juga jerih payah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Bagi kalian yang membaca ini dan belum menikah, sebaiknya saat memutuskan serius menjalin hubungan dengan pasangan apalagi akan sampai ke tahap pernikahan, bicarakan masalah uang dengan serius. Diskusikan bagaimana nanti caranya untuk mengelola uang, berapa uang yang dibutuhkan setiap bulan, dan bagaimana menyikapi pengeluaran. Jangan dilupakan juga tentang bagaimana mengatur penghasilan masing-masing kalau keduanya sama-sama bekerja. Semua harus jelas, jujur, dan tentunya terencana.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Aku dan suami memang sudah memiliki komitmen untuk&nbsp; menyatukan uang kami. Jadi tidak ada lagi istilah uangku dan uangmu. Semua uang bersama dan sepakat untuk diatur oleh menteri keuangan yang adalah aku, si bini. Jadi aku harus cerdas dalam mengatur keuangan, menjaga cash flow supaya dapur tetap ngebul.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Dengan kesepakatan menyatukan uang kami, berapapun penghasilan masing-masing tidak menjadi masalah. Tidak ada yang terintimidasi karena fokusnya adalah bersama-sama memenuhi kebutuhan keluarga. Dulu, waktu diskusi sebelum menikah, aku dan suami setuju untuk terbuka soal gaji dan pendapatan masing-masing.&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Sekarang, berapa pun penghasilan suami, aku terima dengan penuh syukur. Bahkan jika dalam beberapa kesempatan, penghasilanku sebagai entrepreneur lebih besar, itu bukanlah hal yang perlu diperdebatkan dengan suami. Dengan komitmen yang dibuat sebelum menikah, ketika bini lebih tajir ya lakinya juga ikut merasa nyaman.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Dalam kehidupan berumah tangga, ada tiga pengingat sederhana buatku. Tiga hal ini aku jadikan pegangan untuk agar rumah tangga laki bini tetap aman nyaman damai meski penghasilan istri lebih besar dari suami.&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Pertama, Tidak ada lagi &ldquo;aku&rdquo; atau &ldquo;kamu&rdquo;, yang ada tinggal &ldquo;kita&rdquo;. Menikah memang salah satu keputusan terbesar dalam hidup. Karena, kalau sudah menikah, egoisme harus ditinggal, diekspor aja deh ke negara tetangga. Nggak boleh lagi mikir diri sendiri. Jadi kalau istri lebih tajir dan suami nggak terima, atau gaji suami kecil dan istri protes, ya balik lagi ke komitmen awal yang sudah disepakati bersama.&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Istri tajir atau yang punya penghasilan lebih dari suami juga bukan berarti bisa semena-mena. Untuk suami, penghasilan lebih rendah dari istri juga bukan berarti menjadi suami yang tidak berguna. Balik lagi ke poin nomor satu, pernikahan itu tentang kita bukan aku dan kamu. Ibaratnya tim ganda bulu tangkis, yang punya tujuan menang. Semua harus fokus pada tujuan itu. Jadi nggak perlu sensi-sensi nggak jelas. Jangan jadi suami istri yang gampang tersinggung. Kunci membahagiakan perempuan gampang kok, cukup dengan kasih sayang dan cinta.&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Jadi untuk para lelaki yang penghasilannya di bawah istri, jangan berhenti melihat ke hati, potensi, dan cintamu. Lagipula, perempuan yang lebih mapan karena usaha sendiri biasanya akan lebih terbuka pikirannya. Dan jika wanita mau menikah denganmu, berarti memang kamu berarti buat mereka. Jangan rusak rasa sayang dan cinta mereka dengan egomu. Percaya nggak kalau dibantu mengasuh anak dan beres-beres rumah, atau sekadar dipeluk sepulang kerja lebih berarti ketimbang dibelikan tas branded.&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Jujur, ini juga menjadi salah satu poin penting dalam berumah tangga. Jujur pada pasangan. Jujur pada teman hidupmu. Memang ini gampang untuk diucapkan tapi sulit dilakukan. Terutama bagi yang tinggal di kota besar, bagi pasangan yang sama-sama sibuk sampai nggak punya sisa tenaga setelah di rumah.&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> <p>Usahakan selalu jujur, termasuk soal finansial. Misalnya, ketika memutuskan mengambil pinjaman atau ketika dapat bonus dari kantor. Susah cari waktu ngobrol, karena setelah di rumah hanya pengen istirahat dan selonjoran? Tetap usahakan segera cerita kalau ada sesuatu. Lewat whatsapp juga gak apa-apa. Jujur soal kondisi finansial akan membuat kalian lebih tenang. Kalau sudah tenang, akan lebih mudah untuk mencari solusi seandainya memang ada masalah keuangan.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Itu poin-poin yang selalu jadi peganganku. Aku dan suami juga masih berusaha belajar bersama dalam membina rumah tangga setiap hari. Aku paham, kebersamaan dalam menikah itu merupakan proses yang harus terus-menerus dijalani dan dinikmati bersama.</p> <p>&nbsp;</p>

Cara Nyenengin Suami ala #HepiMommy

<p>Dalam hubungan pernikahan, kebosanan dalam hubungan sangat mungkin terjadi. Tentu saja, perlu percikan-percikan api cinta yang bisa menghangatkan kembali. Pasti banyak nih yang punya pengalaman serupa seperti aku. Mungkin tahun pertama, kedua, masih terasa hangat.&nbsp;</p> <p>Nah gimana tahun-tahun setelahnya? Terlebih saat sudah memiliki anak yang perlu untuk diberi perhatian. Boro-boro menambah keceriaan dalam pernikahan, jiwa raga rasanya udah selalu lemas karena kecapekan. Gak sempet deh mikir mau manja-manjaan ke suami kayak awal pernikahan dulu.&nbsp;</p> <p>Sebenarnya, banyak hal-hal sederhana yang bisa menambah manisnya momen kebersamaan. Dan karena istri harus cerdas, pantang menyerah, dan serba bisa, kita harus bisa untuk memaksimalkan sumber daya yang ada kecanggihan teknologi digital untuk menghangatkan hubungan suami istri.&nbsp;Ada beberapa cara yang aku lakukan sebagai seorang dengan budget di bawah Rp100 ribu untuk tetap menjaga percikan api cinta antara aku dan suami. Pastinya super mudah dan tentunya tetap irit!&nbsp;</p> <p>Aku suka banget buat kasih surprise dengan cara kirim makanan favorit pakai bantuan ojek online. Super gampang kan! Pilih menu favorit suami yang lokasi restorannya dekat kantor dia, terus kirim untuk makan siang atau pas suami harus lembur. Makin irit lagi kalau bisa manfaatin beragam promo yang ada. Percayalah, suami pasti akan senyum gembira karena menyadari istri masih mikirin suami padahal sama-sama sibuk.</p> <p>Ada lagi cara lain yang aku lakukan saat budget emang lagi minim. Aku tulis catatan sederhana dan dimasukin ke tas kerja suami atau di saku kemejanya. Bukan surat yang susah-susah ya, cuma sekadar kertas bertuliskan &ldquo;<em>Terima kasih ya Daddy sudah rajin bekerja untuk keluarga</em>&rsquo; sudah mampu membuat suami tersipu. Gampang kan&hellip; bu ibu? Hanya modal kertas dan niat, hehe.&nbsp;</p> <p>Nah kalau yang ingin ada&nbsp;<em>feedback</em>&nbsp;dari suami, bisa coba untuk kirim foto seksi atau whatsapp dengan pesan seksi. Paham banget kan kalau otak laki-laki isinya 80% seksualitas. Nah, yang biasa cuma nanya pulang jam berapa, coba sekali-kali kirim pesan yang sedikit menggoda. Misalnya nih,&nbsp;<em>&ldquo;Sayang, pulang jam berapa? Aku tungguin ya. PS: bra-ku baru lho.&rdquo;</em>&nbsp;Atau kirim foto dengan angle seksi, boleh banget! Kan udah sah, hehe. Silakan contek pose-pose dari google. Malu? Kan sama suami sendiri. Asal jangan lupa segera delete setelah dikirim ya. Nah, yang begini, modalnya nol Rupiah, tapi hasilnya dijamin jackpot!</p> <p>Nah saat suami pulang, strategi pesan seksi tadi bisa dilanjutkan dengan memijat wajah suami biar rileks. Ini kegiatan yang mudah, murah, dan intim. Modalnya skincare yang kita punya aja. Suruh suami berbaring, lalu mulai pijat wajahnya. Tidak perlu skil yang muluk-muluk. Pijat wajah itu gampang kok, persis seperti kita membersihkan wajah. Tidak rumit dan tidak perlu tenaga ekstra. Ini juga bisa dilakukan bareng anak-anak. Seru lho. Bisa gantian. Kehangatannya akan langsung menyebar. Gak cuman di wajah tapi juga di hati.&nbsp;</p> <p>Okay, itu ide-ideku. Mungkin kamu ada ide lainnya?</p> <p>Yang pasti sih, sesibuk apa pun hidup kita, jangan lupakan pasangan sebagai partner menjalani hidup. Itulah salah satu kehebatan kita sebagai perempuan, bisa multitasking dan penuh kasih sayang. Yuk, jadi motor penggerak cinta di rumah. Mumpung besok weekend, ada rencana apa bersama suami dan keluarga?</p>